Postingan

(Sebelum Deadline 17) Selamat Hari Guru, Kalian Sungguh Luar Biasa!

Gambar
Besok, tanggal 25 November diperingati sebagai hari guru. Hari Guru Nasional. Bertepatan dengan hari Minggu. Kalender Merah. Libur. Tapi Bukan hari libur nasional. Tidak seperti hari buruh internasional. Tanggal 1 Mei. Kalender pasti merah. Apapun harinya. Karena sudah ditetapkan sebagai libur nasional. Terlahir dari anak seorang guru. Sudah sepatutnya saya mengucapkan selamat hari guru kepada emak. Meski sudah pensiun empat tahun lalu dari ruang kelas. Tapi rasanya predikat guru pada emak tak boleh hilang begitu saja. Sudah ribuan kepala telah menjadi muridnya. Ribuan hati telah diajarkannya. Ribuan badan telah dididiknya. Bahkan mungkin lebih. Juga kepada istriku tercinta. Kakak, bibi, paman, adik ipar. Juga kepada kakak-kakak senior, rekan-rekan seangkatan, dan adik-adik junior di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Di Jurusan Bahasa dan Seni. Di Program Studi Bahasa dan Satra Indonesia Universitas Bengkulu. Selamat hari guru. Kepada seluruh guru di Indo...

(Sebelum Deadline 16) Hanya Aku yang Cocok untuk Peran Itu

Gambar
Ketika bermain peran di panggung bangsawan--semacam ketoprak humor-- aku punya mimpi besar. Mendapat peran tokoh utama. Sebagai protagonis. Ganteng, berwibawa, gagah. Orang baik, tokoh putih, penolong, dan penyelamat. Tapi sayang, peran ini selalu gagal kudapat. Selalu saja disodorkan peran lainnya. Jika tak pembantu, petani, warga miskin, ya prajurit dengan pangkat paling rendah. Pernah juga peran sebagai kakek tua yang kaya raya. Ya tapi itu, pekerjaannya sebagai rentenir dan suka menggoda istri orang dan menikahi perawan. Paling bagus ketika disodrokan sebagai panglima. Aku begitu gembira. Setidaknya sudah naik level. Setelah baca naskah ternyata seorang panglima pembrontak dan penghasut yang kemudian ditangkap dan dihukum minum racun. Juga pernah dapat peran sebagai penasihat kerajaan. Menasehati raja di ujung pertunjukan. Dapat durasi dua menit dengan dialog satu menit. Padahal durasi pementasan 145 menit tanpa iklan. Malah tetap dapat peran jongos. Tukang ...

(Sebelum Deadline 15) Jodoh Memang Rahasia Tuhan

Gambar
Kami, maksudnya aku dan istriku, menempuh pendidikan di kampus yang sama. Bahkan satu fakultas. Satu jurusan, dan satu program studi. Hanya beda angkatan saja. Aku angkatan 95. Istriku angkatan 98. Di kampus, kami sebatas kenal. Say hello jika bertemu. Begitupun di luar kampus. Sebatas menegur. Tak lebih. Pernah juga satu kelas. Itu karena aku terpaksa mendalami lagi beberapa mata kuliah. Jikapun harus bicara, tidak banyak. Alakadar saja. Selama di kampus. Biasa-biasa saja. Dia dengan kehidupannya. Begitu juga denganku. Dia sibuk dengan urusan kuliah. Aku juga sibuk dengan urusan ormawa, teater, dan lain sebagainya. Tapi namanya jodoh. Kami menikah. Tahun 2007. Bulan Oktober. Tanggal 20. Hari Sabtu. Pukul 10. Sudah 11 tahun lebih sebulan. Sudah punya dua bocah. Nabila dan Naufal. Soal pertemuan. Ini masih jadi perdebatan. Baik aku maupun istriku. Bahkan orang-orang dekat kami masing-masing semasa kuliah dulu. Banyak menyebut kami CLBK. Padahal jika merunut se...

(Sebelum Deadline 14) Ketika Dia yang Selalu Datang Tiba-tiba

Gambar
Anugerah yang indah merantau itu adalah rindu. Akan kampung halaman. Pada Emak dan Abah. Juga pada mereka, kakak dan adik. Ketika kerinduan itu menyergap. Semua yang pernah dilakukan bersama mereka yang dirindukan bermain dalam kenangan. Itu bukan khayalan. Tapi kenyataan. Rindu. Mungkin banyak puisi yang tercipta. Banyak syair yang ditulis. Kemudian menjadi pengobat sesaat. Rindu tetap terjaga sebelum bertemu. Lelap hanya sementara. Untuk menjinakkan hati. Agar bisa berdamai di jauhnya waktu. Rindu. Datang tiba-tiba. Beranjak secara beringsut. Menyapa tiba-tiba. Lalu berusaha untuk memberi salam. Emak dan Abah. Pulang padamu adalah bermanja-manja diri. Meminta lebih. Ini dan itu. Tak ada lelah. Tak ada payah. Kau buka pintu lalu memelukku. Memintaku untuk duduk lebih lama. Agar kau puas memandangku. Sementara jarum jam di dinding tak mau menunggu. Sejenak pun tak bisa. Emak dan Abah. Pulang padamu. Adalah meminta nasihat. Juga doa. Meski tak putus bibirmu menyebu...

(Sebelum Deadline 13) Hapus Nomorku di Ponselmu

Pukul setengah tiga sore. Panggilan telpon masuk. Aku angkat. Suara perempuan. Ramah menyebut namanya. Nisa. Aku bergetar. Nisa? Mesin pengingatku bekerja cepat. Mencari memori untuk menemukan kata Nisa. Belum selesai, Nisa kembali bersuara. Meminta waktu untuk bertemu. Nisa. Perempuan. Masih muda. Suaranya renyah. Akan banyak laki-laki tertarik mendengar suara dan gayanya bicara. Nisa? Ah. Mesin pencarianku gagal. Tak memberi aku apa-apa tentang kata Nisa. Aku meminta mensin untuk mengulang pencarian. Nisa kembali bersuara. Memintaku untuk dapat memerimanya. Aku terdesak. Mesin pencarian benar-benar gagal. Bahkan tak bisa bekerja lagi. "Maaf aku sedang tak bisa. Sibuk," kataku. Nisa membujukku. Ia yang akan menemuiku. Aku diminta menyebut posisi saat ini. Kali ini aku didesak. Aku tetap mengatakan tak bisa. Aku banyak pekerjaan. Nisa merayu. Dia meminta waktu hanya sepuluh menit. Sekali lagi mengatakan dia yang akan menemuiku. Aku tetap mengatakan tak...

(Sebelum Deadline 12) Bersepeda Motor Pergi Malam Mingguan

Gambar
Malam Minggu sudah menjadi malam libur. Resmi. Sudah tujuh pekan. Tepatnya, semenjak permintaan digeser dikabulkan. Semenjak permintaan demosi diaminkan. Saya yang meminta. Minta diganti dan minta malam Minggu. Sebagaimana libur, tentu tak ada pekerjaan. Karena tak ada pekerjaaan, maka mencari sesuatu yang dapat dikerjakan. Seperti malam ini. Dua bocah meminta untuk diajak pergi. Dan ternyata itulah pekerjaan. Ya sudah, akhirnya berempat. Tentu dengan emaknya. Kerja malam ini adalah jalan-jalan. Mengendarai sepeda motor andalan, kami berempat mutar-mutar kota dan berhenti di warung tenda. Lapar lalu pesan makanan. Beranggotakan empat orang dengan sepeda motor. Ah, rasanya sudah sempit. Apalagi sepeda motornya seri kecil. Berdesakan. Berebut tempat. Si kakak sudah tak mau lagi duduk di depan. Sedang si bungsu maunya nempel sama emaknya. Tak Mungkin emaknya yang duduk di depan. Perlu teknik jitu untuk membujuk si bungsu agar rela duduk di depan. Kadang. Bahkan sang...

(Sebelum Deadline 11) Akhirnya Punya Dispenser

Gambar
Semula aku mengira kulkas dua pintu. Setelah dibuka ternyata dispenser. Alhamdulillah akhirnya kami punya dispenser. Hadiah sebagai pemenang kedua dari lomba menulis di BKKBN Babel. Dispensernya cantik. Tinggingya sekitar 1 meter. Warna putih. Seperti dispenser biasanya. Ada panas dan ada dingin. Pelengkapnya ada 3 cangkir cantik. Juga dipermewah lemari bagian bawahnya. Tinggal taruh galon. Itu tidak masalah. Di dapur ada dua galon yang lama tak terpakai. Mungkin sudah 5 tahun. Tapi air galon di dispenser bukan sebagai sumber utama konsumai air kami. Hanya untuk pendamping. Kami tetap mengkonsumsi air sumur yang dimasak dengan kompor. Kehidupan sekarang sudah kepung oleh air kemasan dan galon. Kemana melangkah dan singgah, air dalam kemasan dan galon menyambut. Warung makan, warung kaki lima, restoran, kantor, terminal, pelabuhan, bandara, penginapan, hotel, semuanya menyuguhkan dan menyediakan air dalam kemasan dan atau air galon. Termasuk ketika ke tempat haja...