Ada grup baru di WA. Namanya IKAL UNIB BABEL. Anggotanya alumni dari Universitas Bengkulu (UNIB) yang berdomisili di Babel. Baik di Bangka maupun di Belitung. Sampai malam ini sudah 35 orang yang berkumpul di grup WA tersebut. Tiga belas hari yang lalu saya resmi diajak bergabung. Ternyata lumayan jumlah alumni UNIB di sini. Saya pikir cuma segelintir. Maklum posisi geografis membuat jarak Babel dan Bengkulu terasa jauh. Lebih dekat dan murah ke pulau Jawa. Semua anggota grup dijadikan admin. Mereka diberi keleluasaan untuk memasukkan anggota baru. Syaratnya adalah alumni UNIB. Terserah dari fakultas, jurusan, atau program studi apa. Juga terserah angkatan berapa. Terserah juga soal pekerjaan. Sudah bekerja atau belum, PNS, karyawan swasta atau honorer. Juga soal aktivis atau bukan semasa kuliah, perolehan IPK besar atau kecil. Bahkan tak dibuat syarat lama kuliah. Mau kuliah tepat waktu atau molor hingga semesternya mencapai belasan. Pokoknya yang bisa jadi a...
Sepertinya ayunan hanya ada di taman kanak-kanak (TK). Padahal penyuka ayunan tak mesti anak-anak. Remaja, dewasa, bahkan orang tua juga suka. Buktinya saya, setiap mengantar si bungsu ke TK, saya selalu menyempatkan diri bermainan ayunan. Mungkin sudah saatnya di SD, SMP dan SMA juga menyediakan ayunan. Bahkan di perguruan tinggi. Karena bermain ayunan dapat memberi manfaat bagi kesehatan tubuh. Dari laman suara.com , menyebutkan bermain ayunan bisa mendapatkan manfaat sehat dan bugar. Ayunan selama 60 menit katanya dapat membakar 200 kalori. Aktivitas saat berayun memungkinkan ligamen, tendon, otot panggul dan sendi bergerak. Hal yang lebih menyenangkan lagi, kita tak merasa sedang berolahraga saat berayun. Tubuh juga akan menikmatinya seperti aktivitas bermain. Selain bermanfaat bagi kesehatan fisik, bermain ayunan juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Anda akan merasa senang ketika ayunan mengantarkan tubuh melayang di udara. Suasana hati pun menjadi l...
Ini video pertunjukan yang sudah lama. Naskah apa dan tahun berapa saya sudah tak ingat lagi. Hanya yang pasti, penulis dan sutradaranya adalah Agus Setiyanto Tampil di markas Komunitas Seniman Bengkulu. Beberapa rekan yang saya ingat ada Mohammad Arfani, bang Novi Aryansyah, juga bang Sigan. Ada beberapa dosen dari Universitas Bengkulu. Peran saya ya petani. Petani sial yang kena razia pasukan Belanda. Padahal sebelumnya saya meminta peran sebagai perwira pasukan Belanda. Sayang kualifikasi saya tak memenuhi syarat. "Perwira Belanda itu berwajah ganteng dan berkulit putih," kata Pak Sutradara yang sekejap kemudian seluruh mata calon pemain yang hadir memasang mata iba. Tentu ke arah saya. Saya diam. Mata saya berusaha mencari cermin terdekat. Ternyata "diskriminasi" itu sudah terjadi sejak jaman penjajahan. Juga terjadi di dunia panggung sandiwara. Hanya dunia manya yang bisa menutupi semuanya. Asal punya kamera canggih.(*)
Komentar
Posting Komentar