(Sebelum Deadline 22) Panggil Abang, Jangan Adek!

Sudah satu bulan ini si bungsu, Naufal, tak mau lagi dipanggil adek. Selalu protes. Ia meminta semua orang memanggil dengan sebutan baru, Abang.
Ketika ditanya. Dia selalu menjawab. Adek itu bayi. Sekarang panggil Abang.
Ya. Akhirnya kami. Aku, emaknya, dan kakaknya Nabila, harus mengikuti kemauannya. Meski kadang panggilan adek masih kerap terucap. Biasanya, Naufal langsung protes. Meminta kami meralat dan memanggil kembali dengan sebutan baru. Abang.
Karena sudah 5 tahun lebih lidah ini terbiasa memanggil adek, tentu bukan perkara mudah mengganti dengan abang.
Bukan hanya pada kami. Dia, Naufal, juga meralat jika dipanggil adek oleh nenek, bibi, paman. Naufal juga protes pada guru di TK, tetangga, dan orang lain.
Pernah mencoba membuat kesepakatan. Bagaimana kalau dipanggil abang adek atau adek abang. Dia tetap tidak mau. Tetap meminta dipanggil abang.
Naufal juga di setiap menyebut nama diri, selalu dengan abang. Tak lagi adek.
Sekarang, semua orang harus memanggilnya abang. Sudah diproklamirkan. Oleh Naufal sendiri.
Oke.
Abang.
Titik.(*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Sebelum Deadline 23) Buku Puisi dan Secangkir Kopi Pahit