Senin, 07 November 2016

Cerita Zumaro, Mahasiswa Polandia Asal Bangka Barat Yang Keliling Eropa (2)


Zumaro (baris depan duduk nomor tiga dari kiri) dan Peserta Program Persiapan Bahasa Polandia bersama Dosen Pengajar - Uniwersytet Lódzki, Lódz./DOK PRIBADI||BABEL POS
ZUMARO, Pemuda asal Bangka Barat yang menempuh pendidikan di Universitas Teknologi Warsawa, Polandia dan telah mengelilingi 10 negara di Eropa. Zumaro berbagi cerita kepada wartawan Babel Pos, Budi Rahmad, melalui surat elektroniknya. Zumaro berharap kisahnya dapat memberi motivasi untuk tetap berkarya dan mengejar mimpi. Karena tidak ada yang tidak mungkin.



Nama Tunggal Menjadi Masalah, Sukses Kenalkan Merah Putih

   

HARI yang ditunggu telah tiba. Perjalanan selama 33 jam dari Muntok ke Warsawa. Rute keberangkatan dengan pesawat dari Pangkalpinang – Jakarta – Kuala Lumpur – Abu Dhabi – Roma – Warsawa. Dari Warsawa, Zumaro harus kembali melanjutkan perjalanan dengan bus ke Lódz. Kota yang terletak tepat di tengah Polandia yang berjarak kurang lebih 136 km dari Warsawa yang menjadi pusat pemerintahan di Polandia.    
    Zum akan tinggal di Lódz selama satu tahun untuk mengikuti program persiapan dan kursus bahasa di Uniwersytet Lódzki, sebuah universitas tua yang berdiri sejak tahun 1945.
    Persiapan bahasa dimulai sekitar satu minggu setelah waktu tiba saya di Lódz. Proses adminisstrasi terkait asrama, fakultas, akun bank, asuransi kesehatan, dan lain-lain sudah diselesaikan selama seminggu tersebut. Dan, setiap kali urusan administasi, Zum harus bermasalah dengan nama lengkap. Bagi kita masyarakat Indonesia, mungkin nama keluarga bukan menjadi hal penting, sehingga banyak sekali orang menemukan teman, keluarga atau kolega yang hanya mempunyai nama tunggal.
    "Saya hanya memiliki nama tunggal tanpa ada nama keluarga. Hal ini ternyata menjadi kasus baru di Lódz, dimana keharusan penulisan nama keluarga menjadi sangat penting," kata Duta Bahasa Provinsi Babel 2016 ini.   
    Jadilah, semua berkas berubah nama, yang semula Zumaro, kini menjadi Zumaro Zumaro. Untung saja tidak ada kewajiban untuk menuliskan nama tengah, seperti apabila ingin menunaikan ibadah haji.
    "Bisa membayangkan bagaimana nama Zumaro diulang tiga kali," kata Zum sembari menambah mention tertawa pada surat elektroniknya.
    Namun Zum bersyukur. Semua persoalan yang terasa mumet akhirnya bisa ia lewati. Bahkan ia jadikan persoalan yang datang sebagai tantangan untuk kesuksesan.
    Di dua bulan pertama, bahasa Polandia terdengar sangat asing dan lucu baginya. Tidak jarang Zum tertawa dalam hati ketika memerhatikan dosen menjelaskan cara pengucapan kata yang serba unik. Kursus bahasa ini seratus persen disampaikan dengan bahasa Polandia. Jika ada satu kata atau kalimat yang tidak dimengerti, kata Zum, maka dosen akan menjelaskan kembali dan menerjemahkannya ke bahasa Polandia.     "Semacam kamus Oxford, yang menerjemahkan bahasa Inggris ke bahasa Inggris," kata Zum yang juga Best Delegate di Asean Summit, The Bandung Model United Nations, Bandung - Indonesia tahun 2015 ini. 
     Di kelas bahasa, Zum ditempatkan di kelas Politeknik, kelas khusus bagi mereka yang akan melanjutkan progam studi di
jurusan Fisika, Matematika, Elektronika, dan Informatika. Siswa di kelas ini, kata Zum, mahasiswa datang dari beragam negara, usia, dan program studi lanjutan. Ada yang berasal ada Amerika, Albania, Turkmenistan, Tiongkok, Mongolia, Lebanon, Maroko, Pakistan dan masih banyak lagi.
    "Ada juga yang baru lulus SMA dengan umur sekitar 16 tahun, bapak beranak dua yang sudah menginjak usia kepala tiga," tandas pria kelahiran 20 November 1993 ini.
    Di kelas itu juga, ada yang akan melanjutkan ke Teknik Material, Teknik Informatika, Logistik, hingga Teknik Nuklir. Satu hal yang menyatukan kami disini, yakni bahasa Polandia.
    Sedikit demi sedikit, dengan program bahasa ini, saya mulai mengurangi penggunaan bahasa tubuh pada saat berbelanja di minimarket. Sebagai informasi, sebagian besar penduduk Polandia bangga menggunakan bahasa mereka, sehingga menguasai bahasa Polandia disini menjadi sebuah keharusan. Jika tidak, tinggal memilih untuk menggunakan bahasa tubuh atau diam sama sekali.
    Setelah empat bulan program bahasa di semester musim dingin, Zum mengikuti ujian kemampuan bahasa level A1/A2. Ujian ini dilakukan dengan dua tahap, yaitu ujian tertulis dan ujian lisan. Materi yang diujikan di ujian tertulis laiknya seperti ujian kemampuan bahasa lainnya, semisal IELTS dan UKBI. Bagian pertama diisi dengan kemampuan mendengar, kemudian gramatika, dan diakhiri dengan mengarang sebuah esai.
    "Untuk lisan, percakapan tentang kehidupan sehari-hari dan rencana masa depan menjadi bahan ujian. Saya mendapatkan nilai sempurna di ujian ini, dimana dari 80 poin penilaian tes tertulis, saya menuntaskan semuanya. Dan angka 5+/5 saya kumpulkan di ujian lisan. Sehingga total yang saya dapatkan memperoleh nilai “bardzo dobrzy plus” atau sederhananya “sangat sempurna,” ujar peserta Delegasi Indonesia di General Assembly, International MUN, New Delhi - India tahun 2013 ini.
    Setelah ujian ini, kami memasuki semester musim panas dengan tambahan mata kuliah Fisika dan Matematika (dalam bahasa Polandia). Pelajaran yang sebenarnya sudah saya dapatkan waktu di SMA dulu. Namun, yang menjadi kesulitan adalah pada saat semua unsur diubah dalam bahasa Polandia. Seperti Oksigen menjadi Tlen, jarak menjadi dlugosc, dan masih banyak lagi. Singkatnya, di mata kuliah Fisika saya harus puas di angka 4/5, sementara Matematika masih bisa saya pertahankan sebagaimana bahasa Polandia level B2 dengan angka 5/5.
    "Dengan bekal satu tahun program bahasa yang ia jalani di Lódz, akhirnya Zum dapat menyampaikan presentasi tentang Indonesia di hadapan dosen dan rekan-rekan dengan bahasa Polandia. Satu hal yang paling tidak akan pernah ia lupakan adalah pada saat Zum dan rekan-rekannya diajak ke salah satu sekolah dasar. Mereka diminta menjelaskan tentang negara masing-masing.
    "Saya bersama dua rekan lain dari Indonesia berhasil membawa pulang tepuk tangan meriah dan antusias para siswa yang ternyata baru mengetahui bahwa ada negara dengan bendera Merah Putih yang terbalik dengan bendera mereka, Putih Merah," ujar Zum.(bersambung)

Cerita Zumaro, Mahasiswa Polandia Asal Bangka Barat yang Keliling Eropa (1)

Zumaro (depan tiga dari kanan) menjadi salah satu Penerima Beasiswa Ignacy Lukasiewicz bersama Duta Besar Polandia untuk Indonesia- The Embassy of Poland, Jakarta. OK PRIBADI||Babel Pos


 Zumaro, Pemuda asal Bangka Barat yang menempuh pendidikan di Univeritas Teknologi Warsawa, Polandia dan telah mengelilingi 10 negara di Eropa. Zumaro berbagi cerita kepada wartawan Babel Pos, Budi Rahmad, melalui surat elektroniknya. Zumaro berharap kisahnya dapat memberi motivasi untuk tetap berkarya dan mengejar mimpi. Karena tidak ada yang tidak mungkin.


Ignacy Lukasiewicz, Gerbang Menuju Eropa


    Bagi sebagian besar pemuda Indonesia, khususnya Kepulauan Bangka Belitung, bermimpi untuk menginjakkan kaki di benua Eropa adalah satu satu hal yang sangat sulit atau bahkan sama sekali tidak mungkin.
    Pikiran semacam ini juga sebenarnya sempat ada dalam benak Zumaro, pemuda yang berasal dari Muntok Bangka Barat, Bangka Belitung. Impian yang kadang harus dihadapkan pada kenyataan, bahwa dukungan finansial masih sangat jauh dari kata cukup, serta dukungan mental yang kadang membuat mimpi ini dianggap khayalan negeri dongeng.
    Cerita ini bermula saat Zum--begitu ia dipanggil-- duduk di bangku kuliah, tepatnya di Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir, Yogyakarta. Zum bersama tujuh belas rekan lain, setelah melewati enam tahapan seleksi, dinyatakan lolos untuk mendapatkan beasiswa Preservasi Iptek Nuklir untuk siswa lulusan SMA di Bangka Belitung 2011 yang disediakan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional.
    Kehidupan di Yogyakarta, sedikit demi sedikit memupuk semangat anak dari A. Sofar dan Samsiar untuk bisa berkunjung ke negara lain. Keinginan ini awalnya sangat sulit tercapai. Namun, setelah mendapatkan keberanian untuk mengurus paspor di imigrasi Yogyakarta pada tahun 2012, akhirnya ia mendapatkan kesempatan untuk ke luar negeri.
    Sekitar 10 bulan setelah paspor ada di tangan. Negara pertama yang  menerima kehadirannya adalah India. Zum menjadi perwakilan Indonesia untuk Pemodelan Sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa atau lebih di kenal dengan sebutan Model United Nations Conference, membahas isu terkait dengan penggunaan teknologi autorobotik dalam membantu pekerjaan manusia.
    "Setelah keberangkatan pertama ini, ternyata semangat itu semakin kuat. Hingga saya berhasil menjadi pembicara internasional di Manipur pada tahun 2014 dan Chennai di tahun 2015. Tidak hanya itu, saya juga menamatkan trip lima negara Asia Tenggara pada Februari 2015 lalu, yakni Singapura, Vietnam, Thailand, Kamboja, dan Malaysia," kata Zum melalui surat elektroniknya kepada Babel Pos, Kamis, (3/11)
    Di pertengahan 2015, tepatnya di bulan Juni, Zum mendapati kebingungan dalam diri. Pertanyaan antara bekerja atau melanjutkan kuliah. Namun, ternyata opsi itu bertambah karena pada saat itu terdapat hambatan pada alat yang saya ajukan sebagai bahan sidang tugas akhir. Opsi ketiga yakni memberanikan diri untuk mengambil keputusan mundur sidang sampai satu tahun kedepan, dengan konsekuensi beasiswa penuh yang disediakan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional, hanya boleh diperpanjang dalam jangka satu semester. Itu berarti di semester berikutnya saya harus menanggung biaya kuliah secara pribadi.         Ternyata, opsi ketiga ini menjadi pilihan yang paling rasional saat itu bagi pemuda kelahiran Mentok, 20 November 1993 ini setelah melihat perkembangan alat yang dibuat terlihat nihil hingga, laman facebook memberikan cerita lain.
    "Tengah malam, sekitar akhir Juni 2015, pikiran semakin kacau tidak menentu. Ingin pulang karena kalah berperang, tetapi rasa malu sangat mengganggu. Ingin terus ke medan perang, namun senjata semakin menipis. Mati tentu bukan menjadi pilihan terbaik," kata Zum.
    Di sela doa dan usaha, muncullah satu informasi di laman facebook, tentang beasiswa Ignacy Lukasiewicz. Beasiswa pasca sarjana yang disediakan oleh Kementrian Pendidikan Tinggi dan Sains Republik Polandia. Membaca semua syarat, yang bahkan lebih mudah dipenuhi daripada syarat konferensi internasional yang selama ini ia ikuti. Berkas yang dibutuhkan juga tidak banyak, mulai dari formulir pendaftaran, surat kesehatan, ajuan abstrak untuk kebutuhan tesis, salinan paspor, dan foto terbaru. Dan, malam itu juga, setelah hampir tiga jam berkutat untuk memperbaiki materi dan gramatika bahasa dari ajuan abstrak, Zum akhirnya memberanikan diri untuk mengirimkan berkas pendaftaran itu melalui pos elektronik kedutaan Republik Polandia di Jakarta.
    Nasib ternyata berkata baik, setelah menunggu sekitar hampir satu bulan, ada kabar datang dari pemerintah Polandia melalui kedutaan besarnya. "
    Kabar itu menyatakan, bahwa saya dinyatakan diterima menjadi salah satu kandidat yang akan diberangkatkan ke Polandia pada akhir September di tahun yang sama. Berita ini tentu menjadi penyemangat saya untuk bisa lulus tepat waktu. Negosiasi dengan dosen pembimbing terkait parameter keberhasilan alat, meminta bantuan teman, serta yang tidak kalah penting adalah restu orang tua akhirnya menemukan titik cerah. Alat yang diusahakan berhasil, walau tidak sempurna seperti teori yang dituliskan dalam makalah Tugas Akhir. Sidang tugas akhir pun saya selesaikan dengan baik," bebernya.
    Satu hari sebelum wisuda, 25 Agustus 2015, Zum harus menghadiri pertemuan di Kedutaan Republik Polandia di Jakarta bersama dengan 21 orang lainnya yang juga akan diberangkatkan ke Polandia dengan beasiswa yang sama. Beasiswa ini diperuntukkan untuk mahasiswa di sebelas negara, seperti Meksiko, Kolombia, Vietnam, Palestina, dan lain-lain. Setiap tahunnya, hanya 45 orang yang diterima untuk menempuh pendidikan di Polandia tersebut. Di tahun 2015, Indonesia mendapatkan kuota terbanyak, yakni 57% dari jumlah keseluruhan.
    "Setelah pertemuan dengan pihak kedutaan dilaksanakan, saya langsung kembali ke Yogyakarta menggunakan kereta dengan waktu tempuh delapan jam perjalanan. Pukul tujuh pagi, di tanggal 26 Agustus 2015, saya sampai di Yogyakarta dan siap mengikuti prosesi wisuda. Salah satu kebanggaan di hari yang bahagia itu adalah, selain mendapatkan ijazah kelulusan, saya juga sudah memegang visa keberangkatan untuk melanjutkan pendidikan di benua Eropa," tukasnya.(bersambung)




Senin, 05 September 2016

Mengunjungi Museum Tsunami Aceh, Merasakan Kuasa Allah atas Umat-Nya

Maket MuseumTsunami Aceh/Poto Prima 
Bencana Tsunami Aceh, 12 tahun lalu masih menyimpan duka. Itulah setidaknya ketika kita berkunjung ke Museum Tsunami yang terletak di Jantung kota Banda Aceh. Ke Museum Tsunami bukanlah sekedar wisata, namun lebih dari itu. Kita akan dibwa ke masa dimana air laut itu menghempaskan tanah rencong.

    Rabu, (23/8), Pukul 09.30 wib, Hujan belum juga menampakan tanda-tanda akan reda. Sudah dua hari ini kota Banda Aceh dilanda cuaca yang memang tak bersahabat. Namun jadwal berkunjung ke Museum Tsunami tak dibatalkan. Panitia sudah menyiapkan 5 bus untuk mengajak 200 peserta dari 8 provinsi se-Sumatera pada Pekan Bahasa untuk berkunjung ke Museum Tsunami.
    Museum Tsunami sengaja dibangun untuk mengenang bencana maha dahsyat yang menelan korban sekitar 230.000 jiwa. Peristiwa tsunami terangkum di sini. Museum ini dibangun di lahan seluas satu hektar dengan dana sekitar Rp 140 m. Dana ini merupakan sumbangan berbagai negara di dunia. Negara donatur tersebut bisa dilihat dari bendera-bendera yang tergantung diatas saat kita melewati jembatan harapan sepanjang 15 meter.
    Museum Tsunami Aceh ini terdiri dari empat lantai yang setiap lantainya. Setiap lantai memiliki makna tersendiri. Lantai pertamanya misalnya, dibiarkan terbuka sebagai representasi dari kolong Rumah Aceh. Kolong ini berfungsi sebagai jalur lalu lintas air jika sewaktu-waktu terjadi banjir atau tsunami.
    Museum sendiri memiliki keutuhan sebuah kapal raksasa. Konsepnyapun seperti gelombang laut yang membawa kita pada air laut yang naik ke daratan.
    Dari Hotel Grand Nanggroh Banda Aceh, Butuh waktu sekitar 40 menit untuk sampai ke Museum Tsunami. Derasnya hujan tak kunjung berhenti. Sebagian peserta tampak langsung berlari setelah keluar dari bis. Ada juga sebagaian menggunakan payung darurat seadanya. Namun tak bisa benar-benar terhindar dari hujan.


    Saya begitu penasaran dengan museum tsunami yang didesain oleh sang arsitek Ridwan Kamil jauh sebelum ia menjadi Walikota Bandung. Sejak peristiwa 2004 lalu saya selalu menyimpan rasa untuk mengetahui secara detil peristiwa tsunami. Setidaknya sebagai pengetahuan untuk diri sendiri. Bermodal kamera smartphone saya mulai mengikuti gerak pemandu.
    Perjalanan dimulai dari lorong yang gelap. Lorong ini mengantarkan pengunjung pada peristiwa tsunami saat itu. Di sisi kanan kiri lorong dengan jalan sempit ini terdapat air yang terus bergemuruh. Air ini sebagai simbol gemuruh air yang datang saat tsunami melanda. Ada getir terasa saat melewati lorong ini. Saya melihat kengerian juga di wajah-wajah rekan lain ketika kami sampai di ruang yang sudah terang.
    Suara air gemuruh baru hilang ketika masuk ke sebuah ruangan yang masih juga gelap. Di dalam ruangan ini terdapat 26 unit komputer. Sengaja 26 untuk mengingat tanggal peristiwa itu sendiri. Di dalam komputer terdapat sekitar 50 poto yang menanyangkan kengerian saat tsunami datang dan meninggalkan kengerian yang lebih.
    Ketika saya melihat ke kiri kanan, wajah-wajah tegang beberapa rekan saat menatap layar komputer. Tak bisa saya bayangkan jika saya berada di tengah-tengah musibah tsunami ini. Orang-orang panik, jasad-jasad bergeletakan, rumah-rumah hancur, kendaraan yang hanyut dibawa air. mata nanar melihat dari dekat peristiwa ini.
    Di monitor ini kita akan melihat ayah memeluk anak, ibu mencari anak, mereka menangis dan mereka benar-benar kehilangan orang-orang yang dicintai dalam sekejap.
    Usai menyaksikan poto-poto, kami dibawa ke ruangan yang berbentuk lorong bulat yang tinggi berbentuk cerobong setinggi 32 meter. Lorong ini diberi nama Sumur Doa. Di dindingnya terdapat nama-nama mereka yang telah meninggal dan hilang. Tak kurang dari 2000 nama tertulis di sana. Nama-nama warga yang menjadi korban gempa dan tsunami dahsyat. Sementara di atas terdapat kalimat Allah.

Sebagian nama-nama korban Tsunami Aceh/Poto Budi

    Dari lorong ini kami terus naik lantai dua, ke ruang pamer.  Di ruang pamer ini kita kembali dibawa pada peristiwa hari Minggu itu. Berbagai photo dan miniatur peristiwa tsunami ada di sini. Juga beberapa benda yang menjadi saksi bisu besarnya tsunami, seperti sebuah jam besar, sepeda, sepeda motor dipanjang di sini.


    Selanjutnya kami juga diajak untuk menonton film pendek peristiwa tsunami. Film berdurasi 10 menit ini diputar dalam sebuah bioskop mini dilantai tiga. Ruangan ini hanya bisa menampung sekitar 30 sampai 40 orang saja. Saya sampai berdiri agar tak lagi menunggu giliran berikutnya untuk bisa menonton.
    Sebelum film diputar, pengunjung diingatkan untuk tidak merekam film dalam bentuk apapun. Kami dihadapkan dengan dahsyatnya air yang menggulung semua yang ada di hadapannya saat film dimulai. Beberapa ibu-ibu yang ada di kursi depan tampak menyeka airmata mereka dengan tissu. Saya juga tak bisa menyembunyikan kesedihan saat melihat korban-korban bergelatakan dengan penutup seadanya.
    Meski 10 menit, film ini begitu menyentuh dan memberikan gambaran yang jelas bagaimana air menerjang Banda Aceh dan sekitarnya. Ada sesak tersisa dari bisokop ini.
    Dua jam sudah berada di sini. Dilantai atas lantai empat merupakan lantai terakhir. Sayangnya lantai ini tak bisa saya kunjungi. Lantai ini merupakan lantai untuk tempat evakuasi jika peristiwa sama terjadi. Lantai ini bisa menampung sekitar 4 ribu jiwa. Tapi saya berdoa semoga peristiwa serupa tak lagi terjadi. Biarlah Museum ini benar-benar menjadi museum yang menyimpan pahitnya musihab 12 tahun lalu.(**)

Sabtu, 03 September 2016

Pangkalpinang Pusat Sejarah Penambangan Timah di Indonesia #pesonapangkalpinang

Museum TImah Indonesia yang berada di Jalan Ahmad Yani Pangkalpinang/Poto Budi Rahmad
   
Selain wisata religi dan pantai, kota Pangkalpinang juga terkenal dengan  wisata edukasi sejarah timah Idonesia. Museum ini akan memberi anda  informasi lengkap sejarah penambangan timah di Indonesia sejak zaman kolonial hingga era modren saat ini. Pengetahuan ini tidak bisa didapat  di tempat lain, pasalnya museum sejarah pertimahan yang lengkap hanya  ada di Pangkalpinang.

Pengunjung saat di ruang museum/Foto Budi Rahmad

Jika anda kebetulan berada di kota Pangkalpinang, ada baiknya anda  mengunjungi Museum Timah Indoesia yang terletak di Jalan Ahmad Yani ini.  Seperti pada Sabtu, 3 September 2016, lalu. Sekitar pukul 13.50 wib,  museum kedatangan pengunjung yang jumlahnya cukup banyak. Tamu kali ini  bukan tamu biasa, mereka adalah peserta Pertemuan Dekan Fisipol dari  berbagai perguruan tinggi Se-Indonesia. Tuan rumah tentu Universitas  Bangka Belitung. Ramainya kunjungan memang bukanlah hal baru. Beberapa  kali, saya juga melihat rombongan lainnya berkeliling di museum ini.
    
Museum Timah Indonesia yang berdiri sejak tahun 1958 ini, jika dari Bandara Depati  Amir hanya membutuhkan waktu 15 hingga 20 menit untuk sampai ke sampai  museum ini. Dari bandara anda bisa menggunakan taksi atau mobil rental  yang ada di bandara. Posisinya yang strategis akan sangat  memudahkan anda menemukannya. Jalur ini juga akan memudahkan anda untuk  melangkah ke destinasi berikutnya sepeti pantai Parai, pantai Pasir  Padi, ataupun pantai Rambak. Jika  anda merupakan tamu dari sebuah kegiatan, biasanya panitia sudah  memasukkan kunjungan ke Museum Timah Indonesia sebagai salah satu tempat  yang akan didatangi.
    
Museum ini memang acapkali mendapat kunjungan pelajar. Mulai dari  anak-anak TK sampai mahasiswa. Hal ini karena memang museum ini banyak  menyimpan kisah perjalanan pertambangan dan penambangan di Bangka  Belitung. Mulai dari pertambangan tradisional hingga modern. Apalagi  museum ini merupakan satu-satunya rumah yang menyimpan dan menampilkan  sejarah penambangan timah di Indonesia.
    
Hari itu, saya kebetulan lebih dahulu sudah berada di dalam museum.  Sebelumnya saya sudah menduga, bakal ada rombongan tamu yang datang  setelah melihat kesibukan beberapa staf museum. Tidak sampai 5 menit,  saya melihat ada 4 bus Universitas Bangka Belitung menepi di depan gedung museum yang secara resmi di buka untuk umum pada 2 Agustus 1997 ini.  Begitu turun, mereka langsung dipandu memasuki gedung dan mendapat  penjelasan dari petugas. Saya melihat mereka tampak antusias  dengan sajian yang tersedia di museum ini.    Di dalam museum pengunjung akan segera mendapat penjelasan proses penambangan  dari pengambilan pasir timah hingga menjadi balok timah.
    

Museum Timah Indonesia ini menempati bangunan yang dahulu merupakan tempat  tinggal bagi karyawan perusahaan timah Banka Tin Winning. Bentuk aslinya  masih dipertahankan meski sudah beberapakali mendapat sentuhan  pemugaran. Masuk ke halaman Musium Timah, anda akan langsung melihat sebuah  lokomotif tua berwarna hitam. Lokomotif ini memang diletakkan di bagian  paling depan. Dari jalan raya, jika sedang mengendarai kendaraan  sekalipun akan terlihat jelas. Dari data yang disematkan di badan  lokomotif, ternyata lokomotif ini dahulu digunakan sebagai pembangkit  listrik untuk keperluan penambangan.



Melihat Proses Pengerukan Pasir Timah dari Dasar Laut/Foto Budi Rahmad

Di sisi Lokomotif juga terdapat mangkuk timah yang sering digunakan  oleh kapal keruk di laut. Ukurannya cukup besar bisa menampung tubuh  manusia dewasa.  Mangkuk keruk berbagai ukuran juga terdapat di sisi  kiri gedung museum.
    
Masuk ke pintu utama museum pengujung akan langsung melihat Prasasti  kota Kapur. Tenang, sudah ada translit dalam bahasa Indonesia apa yang  tertulis di dalam prasasti tersebut. Di  ruang pertama ini juga terdapat figura besar yang berisi informasi  lintas sejarah penambangan timah di Idonesia. Informasi ini dimulai sejak  abad 1 hingga tahun 2000. Seperti tahun 1733 saat Mahmud Badaruddin I  menghimpun penggalian timah di pulau Bangka, tahun 1816 Perjanjian  Traktat London yang menyatakan Inggris wajib mengembalikan Bangka  Belitung pada Belanda dan akhirnya Belanda mendirikan Banka Tin Winning  (BTW).
 
Masuk ke ruanga berikutnya,  terdapat aneka relief dan maket model  penambangan timah . Hadirnya relief dan maket ini memberikan informasi  kepada pengunjung mengenai penambangan timah secara tradisional dan  modren. Ada beberapa alat penggalian timah saat masa awal dahulu, juga  ada maket kapal keruk timah yang beroperasi di laut. Tidak hanya itu juga  terdapat model maket yang menjelaskan bagaimana timah di dalam laut  bisa sampai ke dalam kapal keruk.  Secara jelas pengunjung akan mendapat informasinya pada figura besar di ruangan ini yang memuat  kaleidoskop 100 tahun kapal keruk timah di Indonesia. Di ruangan kedua  ini juga terdapat maket penambangan secara tradisional.
    
Saya mencoba menyempatkan mengobrol dengan beberapa peserta. Mereka  pada umumnya menyatakan berterimakasih telah diajak ke Museum Timah.  Meski dari sisi disiplin ilmu mereka tidak memiliki hubugan langsung  dengan timah. Tetapi setidaknya kunjungan tersebut mendapatkan gambaran  dan ilmu dan pengetahuan baru tentang penambangan timah.




Relief yang Terdapat di Museum/Foto Budi Rahmad


Perjalanan menggali informasi penambangan timah belum cukup hanya sampai  ke ruangan depan dan tengah saja, di ruang ketiga terdapat lukisan dinding yang lebar  memuat penambangan timah zaman kolonial belanda. Dalam gambar  menjelaskan bagaimanan buruh timah sedang bekerja dan diawasi oleh  orang-orang Belanda. Di ruangan ini juga terdapat balok timah yang  sudah jadi. Baik balok tima era praindustri maupun era industri. 
 
Dikutip dari www.indonesia-heritage.net, bahwasanya, gedung Museum  Timah Indonesia ini merupakan tempat bersejarah. Karena pernah dijadikan  lokasi perundingan dan diplomasi antara pemimpin republik yang  diasingkan ke Bangka dengan Pemerintah Belanda dan UNCI (United Nations  Commission for Indonesia) sehingga lahirlah Roem-Royen Statement pada  tanggal 7 Mei 1949. Bahkan disebutkan juga Bung Karno dan Bung Hatta pun  pernah menginap disana.
 



Swapoto di Depan Lukisan Penambangan Timah Era Belanda/Foto Budi Rahmad
Untuk dokumentasi, pengunjung yang datang, diperbolehkan untuk  berpoto secara bebas. Berpoto atau swaphoto sudah menjadi tradisi  jamak di museum ini. Ada banyak titik untuk dijadikan latar untuk  berpoto. Pertama di depan lokomotif tua, pintu masuk dengan latar  belakang gedung museum yang utuh, di depan lukisan penambangan timah  zaman kolonial yang terletak di bagian tengah, dan di prasasti kota kapur.

Tapi yang paling favorit adalah di depan lukisan dan lokomotif.  Alasannya, gambar besar dan ruang yang pencahayaan cukup akan memberikan  gambar yang eksotis. Sementara di lokomotif akan sangat mewakili bahwa lokasi yang  dikunjungi adalah sebuah museum.
Sebagai buah tangan atau oleh-oleh, pengunjung dapat membeli kerajinan  dari timah. Di Sentra Kerajinan Pewter. Mulai dari yang kecil berupak  gantungan kunci hingga yang besar plakat, atau perahu phinisi dengan  harga berpariasi.  Jika waktu memungkinkan pengunjung dapat memesan sesuai dengan keinginan.
   
Pengunjung museum ini tidak saja tamu dari luar. Berdasarkan data  buktu tamu pengunjung museum ini pada Agustus lalu mencapai 2000 orang. Beberapa waktu lalu saya juga pernah ikut mengantar putri saya  bersama rekan-rekannya di berkunjung ke sini. Meski tidak paham apa yang  mereka lihat, namun kunjungan kala itu sudah memberikan arti dan  pengenalan kepada anak-anak tentang tambang timah. Pelajaran sangat  berharga, ketika museum timah dijadikan salah satu pusat pendidikan bagi  anak-anak Pangkalpinang sendiri.

Setidaknya, anak-anak ini nanti akan terus bangga dengan museum yang  banyak menyimpan kisah dan perjalanan serta pengetahuan tersebut.  Mereka bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain. Pangkalpinang  benar-benar beruntung dengan adanya Museum Timah Indonesia ini. Berbagai  pesona tersimpan dalam museum ini. Pesona ini bisa menjadi salah satu  alasan untuk orang nun jauh di sana untuk mengunjungi kota ini. Baik  treveler, peneliti bahkan wisatawan biasa.
Sebagai warga Pangkalpinang, selayaknya untuk tetap bangga dengan  museum ini. Bangga dengan melakukan hal sesuai dengan yang bisa  diperbuat. Pemerintah dengan berbagai kebijakan yang mendukung program  dan pengembangan museum. Bagi masyarakat dengan bertindak dengan  perbuatan positif.

Tiga puluh menit sudah saya, istri dan dua anak saya berada di  museum ini. Kami juga sudah sempat berswapoto dengan tongkat narsis yang  sengaja dibawa istri. Sementara tamu para dosen itu juga sudah berada  di bagian akhir musem. Ada senyum terkembang di bibir mereka ketika  mereka melangkahkan kaki di pintu keluar. Ada ilmu baru yang didapatkan  hari ini. Baik bagi kami sekeluarga, maupun pengunjung lainnya, kisah  perjalanan penambangan timah Indonesia. Kisah itu hanya bisa didapat  dengan berkunjung ke Museum Timah Indonesia di Pangkalpinang.(**)

Selasa, 19 Februari 2013

Teater Bahtra Pose bersama Putu Wijaya tahun 1998

Rabu, 29 Juni 2011

Babel Pos Borong Juara Bhayangkara

Babel Pos Borong
Juara Bhayangkara

PANGKALPINANG- Empat jurnalis dari Harian Babel Pos borong juara lomba Bhayangkara Dalam Photo dan Bhayangkara Dalam Karya Tulis yang digelar oleh Mapolda Babel. Kepastian ini didapat setelah panitia mengumumkan juara-juara masing-masing kategori di website mereka kemarin (29/6).
Keempatnya adalah, Bardian (Redaktur Pelaksana), Budi Rahmad (Redaktur), M Hadi Sutrisno (Kabag Pracetak), dan Reza Hanafi (Wartawan).
Dikategori photo, Bardian terpilih sebagai juara Favorite pilihan Kapolda Bangka Belitung (Babel). Sementara M. Hadi Sutrisno menjadi pemenang di dua kategori sekaligus. Yakni juara 2 kategori profesional, dan juara 2 kategori action. Sementara di karya tulis, Budi Rahmad dan Reza Hanafi berhasil menempati rangking pertama dan kedua.
Orang yang pertama kali berbahagia atas kemenangan ini adalah General Manager/Pimpinan Redaksi Harian Babel Pos Drs Syahril Sahidir. ''Jujur, saya bangga. Bagaimana tidak, ada
4 jurnalis kami meraih juara di lomba tersebut,'' ujarnya.
Keberhasilan seorang jurnalis adalah dinilai dari karya-karyanya yang berupa foto dan tulisan. Sehingga menurut Syahril, di intern Jawa Pos Grup (JPNN) pun, setiap tahun selalu diadakan lomba sejenis dengan Tajuk Dahlan Iskan Award. Dan itu, diikuti seluruh jurnalis anak-anak perusahaan Jawa Pos Grup se-Indonesia.
''Itu sebabnya, jika ada lomba-lomba sejenis untuk kalangan jurnalis yang diadakan lembaga apapun, saya selalu mendorong mereka untuk ikut serta. Targetnya, yang utama adalah untuk mempertajam karya-karya mereka juga. Dan itu akan berimbas ke perusahaan juga,'' ujarnya.(bgs)

Kamis, 03 Februari 2011

Gong Xi Fa Cai


Selamat Tahun Baru Imlek 2562