(Sebelum Deadline 24) Kenapa Kau Kirim Pesan Begitu Rumit





 Baru saja ingin terlelap. Sebuah message hinggap di ponsel. Dari seorang sahabat. Perempuan.

Dua keputusan berperang. Antara ingin membuka atau ingin melanjutkan tidur. Jika dibuka pasti harus dibaca. Kemudian harus dibalas. Setelah itu akan berkelanjutan berbalas pesan. Bakal panjang.
Jika melanjutkan tidur, berarti harus membawa rasa penasaran. Bakal tak bisa tidur.
Kubiarkan lima menit. Keputusan membaca bersorak lebih kencang. Baiklah baca saja dan tak usah dibalas. Begitu bisiknya. Aku mengalah. Membuka kunci ponsel.
--Sejatinya malam ini mau menulis. Sebuah cerpen. Dengan latar peristiwa 212. Di Monas. Tapi tak jadi diselesaikan. Khawatir jadi bumerang. Khawatir fiksi dalam cerpen itu nantinya dianggap fakta.
Kemudian mencoba menulis artikel. Peristiwa reuni 212. Masih di tempat yang sama. Di Monas. Tapi tak juga jadi diselesaikan. Khawatir jadi masalah. Khawatir fakta yang ada dianggap fiksi.
Bagaimana menurutmu? --
Aku yang bingung. Tak jadi tidur. Ah, kenapa pula kau kirim pesan begitu rumit malam ini.
Kubaca sekali lagi. Tak ada yang berubah. Isi pesannya sama seperti sebelumnya, saat pertama aku terima dan baca.
Seperti janjiku sebelumnya. Tak kubalas. Malah aku matikan ponsel. Diam merenung.
Lalu aku mencoba menulis. Tentang dia. Yang baru saja pesannya kubaca. Judulnya: Perempuan Rumit yang mengirim Pesan di Tengah Malam, (Sebuah Analisis Tinjauan Psikologi). Terserah nanti jadinya apa. Cerpen atau artikel. Tapi tak kuselesaikan. Khawatir. Dia tersinggung. Soalnya dia perempuan.(*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Zumaro, Mahasiswa Polandia Asal Bangka Barat Yang Keliling Eropa (2)

Babel Pos Borong Juara Bhayangkara